#TrekkingHistory Misteri K2 yang tak Terungkap Sejarah Panjang Pendakian Gunung K2 Part 3

0
466
1
2
Jangan lupa sertakan sumber dengan jelas jika ingin mencopy

Misteri K2 yang tak Terungkap. Sejarah Panjang Pendakian Gunung K2. Namun nama K2 sangat kontras berbanding terbalik dengan realitas jalur pendakian gunung K2. Gunung K2 banyak digambarkan dengan kata "mengagumkan", "pembunuh" dan "buas" . Ini bukanlah mitos belaka, tapi berdasarkan dari banyaknya usaha pendakian Gunung K2 yang gagal dari berbagai ekspedisi, termasuk banyak ekspedisi Amerika.

Pencapaian puncak K2 dilanjutkan pada tahun 1939, setahun sesudah ekspedisi Nanda Devi oleh AAC yang dipimpin oleh Houston. AAC memberi tawaran kepada Fritz Wiessner untuk memimpin ekspedisi. Seperti yang sudah diperkirakan oleh Houston sebelumnya, Wiessner bersedia dan menerima tawaran sebagai pimpinan ekspedisi. Dengan catatan dan petunjuk dari ekspedisi sebelumnya yang dipimpin oleh Houston, ekspedisi kali ini diharapkan berhasil dan sukses mencapai puncak K2.

Titik Pencapaian Wiessner sebelum puncak K2 tahun 1939 bersama Dawa Lama

Namun keberuntungan belum berpihak kepada Wiessner yang harus turun kembali 200m sebelum puncak. Ada teori yang menyebutkan adanya sabotase sehingga Wiessner tidak bisa melanjutkan pendakian karena logistik dan perlengkapan yang hilang. Namun teori lain menyebutkan bahwa kegagalan Wiessner mencapai puncak K2 adalah karena minimnya pengetahuan dan pengalaman anggota team Wiessner.

Artikel Terkait   #TrekkingHistory Puncak K2 tidak dapat ditaklukkan Sejarah Panjang Pendakian Gunung K2 Bag-2

Ekspedisi Amerika kedua ini, yang diharapkan dapat meraih sukses, pada akhirnya nanti malah berubah menjadi tragedi paling misterius dalam sejarah pendakian Himalaya-Karakoram. Banyak pengamat menyatakan bahwa Misteri K2 yang tak terungkap yang menyebabkan tragedi ini dipicu oleh minimnya pengalaman anggota team pendaki Wiessner.

Team Wiesnner yang Buruk - Misteri K2 yang tak terungkap

Pada awal pembentukan team, Wiessner ingin mengajak pendaki bekas anggota team Houston, namun tidak dapat bergabung karena beberapa alasan. Wiesnner mengetahui bahwa perlu team yang handal untuk bisa menjadi anggota pendakian K2, oleh karenanya dia berusaha untuk mengajak beberapa pendaki Amerika lainnya yang sudah berpengalaman melakukan pendakian di Alps, Canada ataupun Alaska. Namun satu-persatu mengundurkan diri walaupun pada awalnya mereka menyanggupi.

Menuju India. The Last Man On The Mountain - Vittorio Sella, Jack Durrance, Fritz Wiessner, And Dudley Wolfe. 19 Maret 1939
Menuju India. The Last Man On The Mountain - Vittorio Sella, Jack Durrance, Fritz Wiessner, And Dudley Wolfe. 19 Maret 1939

Karena dikejar deadline, Wiesnner mulai sedikit kompromi dengan kualitas dan pengalaman dalam memilih pendaki untuk teamnya. Pada akhirnya terpilih empat pendaki dengan kualitas dan pengalaman yang masih diragukan. Bahkan salah satu diantaranya, Dudley Wolfe, baru menekuni olah raga mendaki gunung tiga tahun sebelumnya. Namun Dudley Wolfe adalah seorang milyarder asal Boston, lulusan Harvard University. Ada kemungkinan Wiessner mengajak Wolfe agar dapat membantu meringankan biaya ekspedisi. Usia Wolfe saat itu sudah 44 tahun dan memiliki masalah kelebihan berat badan untuk ukuran pendaki. Namun Wiessner percaya, berbekal pengalaman dan pengetahuan yang dia miliki serta informasi yang didapatkan dari ekspedisi Houston, ia akan dapat mengatasi kekurangan yang ada.

Artikel Terkait   #TrekkingHistory Sejarah Pendakian Gunung Everest, Zona Kematian dan Etika Pendakian

Banyak veteran pendaki elite Amerika yang pesimis dengan team Wiessner. Ed Viesturs, veteran pendaki elite Amerika, memberikan gambaran selemah apa team Wiessner saat itu. Dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau melakukan ekspedisi ke Karakoram atau Himalaya dengan team seperti team Wiessner. Menurut Viesturs, anggota team yang minim pengalaman seringkali menjadi pemicu bencana tragedi. Seandainya dia menjadi salah satu anggota team Wiessner, dia akan langsung mengundurkan diri. Seandainya dia adalah pemimpin team, maka dia akan membatalkan ekspedisi.

 

Official Fhoto AAC K2 Expedition 1939
Official Fhoto AAC K2 Expedition 1939

Kembali ke atas  - Misteri K2 yang tak terungkap

Wiesnner vs Durrance

AAC, yang secara resmi merupakan sponsor ekspedisi ini, menyadari akan hal tersebut. Sayangnya, tanpa konsultasi dengan Wiessner AAC merekrut pendaki ke-enam, Jack Durrance menjelang keberangkatan team. Saat itu Durrance berumur 26 tahun, dinilai akan bermanfaat bagi team mengingat pengalaman pendakiannya di Alps dan Tetons yang sangat mengesankan. Disamping itu, Durrance menghabiskan masa remajanya di Jerman, sehingga diharapkan dapat segera 'nyambung dan klop' dengan Wiessner yang juga kelahiran Jerman.

Artikel Terkait   #TrekkingHistory - Sejarah Panjang Pendakian Gunung K2

Namun hal tersebut tidak pernah terjadi, bahkan malah sebaliknya. Durrance tidak dikehendaki oleh Wiessner sejak awal, dan Durrance pun mengetahui hal itu. Mereka berdua tidak pernah bisa bekerja sama dengan baik.

Tiba di Srinagar (April 1939)

Pertengahan April 1939, akhirnya team Wiessner yang terdiri dari enam pendaki tiba di Srinagar. Sama dengan ekspedisi sebelumnya, di sini Wiessner juga merekrut sembilan orang Sherpa dari Darjeeling sebagai high-altitude porter. Bukan kebetulan bila lima diantaranya adalah Sherpa yang ikut ekspedisi Houston setahun sebelumnya. Long-march dari Srinagar ke base-camp dimulai pada 2 Mei dengan disertai seratus dua-puluh tiga orang porter lokal pengangkut logistik. Mereka tiba di base-camp pada 31 Mei.

Kepincangan team ini mulai terjadi bahkan sejak pendakian belum dimulai. Beberapa hari setiba di base-camp, salah seorang pendaki mengalami sakit yang berlarut-larut hingga tidak dapat berpartisipasi dalam pendakian. Namun diluar dugaan, Dudley Wolfe, yang semula dianggap sebagai pendaki terlemah dan bisa bergabung dalam team karena Wiessner berkepentingan dengan uangnya, ternyata menunjukkan performa yang luar biasa. Selain Wiessner dan beberapa orang Sherpa, Wolfe adalah satu-satunya pendaki yang mampu mencapai camp VIII di ketinggian 7,710 m.

Dudley Wolfe. Hari terakhir sebelum mencapai basecamp K2. 31 Mei 1939
Dudley Wolfe. Hari terakhir sebelum mencapai basecamp K2. 31 Mei 1939

Bagaimana dengan Durrance? Perkiraaan AAC terhadap peran Durrance ternyata salah besar, meskipun Durrance adalah pendaki yang sarat pengalaman, namun tidak menjadikan dia menjadi pendaki yang tahan banting dengan masalah ketinggian. Baru di ketinggian 6,100 m, dia sudah mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan tipisnya udara. Pada akhirnya Durrance memang tidak pernah mampu mendaki lebih tinggi dari 7,150 m. Dia lebih banyak berperan sebagai support. Peran ini memang sangat menentukan keberhasilan team tetapi tentu saja suatu hal yang tidak akan disukai oleh pendaki manapun lebih-lebih sekaliber Durrance.

Artikel Terkait   #TrekkingHistory Menaklukkan Puncak Meru Himalaya sebuah Anti Everest

Kembali ke atas  - Misteri K2 yang tak terungkap

Bersama Pasang Dawa Lama di ketinggian 7,940 m

Dalam waktu relatif singkat, sekitar empat-puluh lima hari sejak sampai di base-camp, Wiessner dan salah seorang Sherpa bernama Pasang Dawa Lama, telah berhasil mencapai camp IX. Lebih cepat 5 hari dari pendakian Houston sebelumnya.

Camp ini berada pada ketinggian 7,940 m, sekitar 670 m dari puncak, merupakan camp terakhir menjelang summit. Ini tentu saja tidak terlepas dari jasa Houston dkk yang telah merintis jalur pendakian untuk Wiessner setahun sebelumnya.

Summit Attack K2 - Misteri K2 yang tak terungkap

19 Juli 1939, menjelang jam sembilan pagi, Wiessner dan Dawa Lama meninggalkan camp IX untuk melakukan summit attack. Sejak meninggalkan camp, Wiessner selalu mendaki di depan. Di sini mereka harus berhadapan dengan jalur pendakian yang belum dikenal, sebab Houston dan Petzoldt setahun sebelumnya menyerah sekitar lima-belas meter jalur vertikal sebelum camp IX. Kehandalan Wiessner sebagai pendaki benar-benar diuji. Jalur yang dihadapi saat itu lebih sulit dibandingkan dengan jalur pendakian manapun di Karakoram atau Himalaya, dan Wiessner praktis merintis semua jalur pendakian seorang diri, pada ketinggian di atas 8,000 m dan tanpa tabung oksigen. Dawa Lama lebih banyak melakukan belaying, yaitu membantu mempertahankan keseimbangan pendaki di depannya.

Artikel Terkait   #TrekkingHistory Sejarah dan Penamaan Gunung Kilimanjaro 1

Wiessner baru berhasil mengatasi semua jalur sulit menjelang malam hari sekitar jam 18.30, saat itu mereka sudah mencapai ketinggian 8,380 m, tinggal sekitar 230 m lagi menuju puncak. Jalur pendakian yang ada di hadapan mereka sekarang ibarat tinggal ‘jalan bebas hambatan’.Puncak K2 praktis sudah ada dalam genggaman.

Kembali ke atas  - Misteri K2 yang tak terungkap

Next Sebuah Dilema, Hidup dan Mati, Puncak K2 vs Partner

Advertisements

Jangan lupa tinggalkan komentar ya gais

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.